PENYIMPANGAN PSIKIS PADA ANAK DAN FAKTOR PENYEBABNYA
PENYIMPANGAN PSIKIS PADA ANAK DAN FAKTOR PENYEBABNYA
By: Muhammad Irham Maulana
Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang berkembang secara sempurna. Dalam taraf yang sederhana, orang tua tidak ingin anaknya lemah, bodoh, dan nakal. Untuk mencapai tujuan itu, orang tua sebagai pendidik pertama dan utama mempunyai tanggung jawab besar demi keberlangsungan hidup anaknya.[1]
Antara pendidikan dan pengetahuan tentang jiwa erat kaitannya. Untuk menjadikan karakter yang baik harus melalui perekayasaan yang didasarkan pada pendidikan serta pengarahan yang sistematis. Hal tersebut tidak akan tercapai kecuali dengan mengetahui jiwa terlebih dahulu. Jika jiwa yang dipergunakan dengan baik, maka manusia akan sampai kepada tujuan yang tinggi dan mulia.
Maka dari itu, jiwa merupakan landasan penting bagi pelaksanaan pendidikan. Pendidikan tanpa pengetahuan psikologi laksana pekerja tanpa pijakan.[2] Dengan demikian, teori psikologi perlu diaplikasikan dalam proses pendidikan, yang dalam hal ini adalah keluarga sebagai pendidik yang banyak lebih tahu tentang kondisi psikis anak.
BAB II Pembahasan
A. Pengantar
Nabi bersabda yang artinya: “Setiap anak dilahirkan secara fitrah, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani.” (HR. Bukhari).[3] Hadits ini mengisyaratkan bahwa pendidikan keluarga sangat berpengaruh pada pola pikir dan perilaku anak. Para ahli pendidikan sepakat, pendidikan dini yang diberikan orang tua kepada anak sanagt berpengaruh dan begitu membekas sampai anak tumbuh menjadi dewasa. Pembahasan dalam proses pendidikan akan mengantarkan pada pembahasan kefitrahan anak yang menjadi landasan proses dan acuan dalam perencanaan, karena pendidikan harus selaras dengannya sehingga kemudian tidak terjadi kontradiksi.
Dalam konteks pendidikan, kata “fitrah” seperti yang disebut di atas sering identik dengan teori tabula rasa yang mengatakan kenetralan modal dasar diarahkan pada proses. Sementara dalam pandangan Islam, kenetralan tersebut sebagai fitrah, dengan arti bahwa ia telah terisi dan terwarnai potensi kesucian. Tetapi bukan berarti tidak berwarna sehingga tergantung pada pewarnanya.[4]
B. Penyimpangan Psikis Anak
Setiap anak memilih perilakunya sendiri.[5] Salah satu bukti yang mudah kita jumpai adalah anak yang berperilaku berbeda terhadap orang yang berbeda sekalipun orang itu adalah orang tuanya sendiri. Anak bisa berperilaku manja kepada ibunya, tetapi mungkin berbeda 180 derajat saat bersama bapaknya. Semakin tipis perbedaan, anak semakin mudah mengembangkan pola positifnya. Sebaliknya, semakin besar perbedaan pola perilaku, semakin sulit anak mengembangkan kerakternya. Sebab, anak akan sibuk menemukan taktik menghadapi orang tua demi memperoleh apa yang diharapkan. Begitu juga ketika berhadapan dengan orang lain.
Dari hasil interaksi yang diperoleh secara berbeda, terdapat beberapa penyimpangan dalam psikis anak. Penyimpangan tersebut muncul akibat sistimulus yang berada di luar keyakinan dan kemampuan dirinya. Di antaranya adalah, sifat penakut, pembohong, dengki, dan pemarah.[6]
a. Penakut
Ketakutan adalah hal yang rasional dan alami. Rasa takut muncul sebagai reaksi terhadap persepsi bahaya eksternal. Akan tetapi kemunculannya sangat bergantung kepada seberapa besar pengetahuan dan rasa berkuasa terhadap sesuatu yang berada di luar dirinya.[7] Ketakutan nampaknya memiliki arti khusus, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan keadaan yang menyebabkan bahaya ketika pada saat yang sama tidak ada kesiapan terhadap situasi yang dihadapi.
Perasaan takut merupakan hal yang sangat umum pada anak dan cukup sulit untuk menentukan apakah perasaan itu terjadi secara objektif atau berkaitan dengan neorotik.[8] Pada satu sisi, tidak mengherankan jika anak merasa takut pada orang asing – hal yang aneh- karena hal itu mempunyai kecenderungan terhadap perasaan yang objektif. Tetapi anak juga tidak akan takut pada orang asing karena anak menghubungkan dengan niat jahat pada diri orang tersebut atau membandingkan kekuatan dan kelemahannya. Pun demikian, anak yang terlalu percaya pada kekuatannya dapat bertindak tanpa rasa takut karena dia belum mengenal bahaya.
Kecenderungan perasaan takut yang terjadi pada anak akan berakibat fatal ketika perasaan itu muncul dalam diri anak. Perasaan takut yang terus-menerus datang dengan cara berlebihan dapat menyebabkab phobia yang akan berlangsung dalam jangka waktu lama, bahkan berlangsung selama hidup. Dan tidak dapat disangkal jika pada suatu kejadian yang sama atau paling tidak, mirip, anak merasa trauma dengan kejadian sebelumnya meskipun kenyataan yang akan terjadi tidak akan pernah sama akibatnya.
b. Pembohong
Kebiasaan berbohong adalah hal yang tidak disukai oleh siapapun, selama itu menimbulkan banyak kerugian. Dan tidak ada seorangpun yang ingin dibohongi, karena kebohongan adalah memalingkan kenyataan yang sebenarnya pada kenyataan yang palsu. Sementara hasrat alamiah manusia ingin mengetahui semua yang terjadi secara nyata tanpa ada pengaburan data sedikitpun.
Hal ini dapat terjadi pada diri anak jika orang tua tidak benar-benar memperhatikan perilakunya sehari-hari. Perhatian orang tua sangat berperan dalam hal ini, terutama dalam pola komunikasi. Kebiasaan anak meninggikan suara ketika meminta perhatian lebih dari orang tua menjadi indikasi bahwa anak mudah terpengaruh untuk mengubah temperatur emosinya dan menganggap orang tua tidak begitu memperhatikannya.[9] Sehingga pada waktu selanjutnya akan sering mengelak dari orang tua dengan menunjukkan hal-hal di luar kenyataan yang terjadi.
c. Dengki
Dengki adalah sifat yang senantiasa berharap kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain segera hilang. Sifat ini akan menyulut kebencian yang mempengaruhi seseorang sehingga membuatnya sedih pada saat orang lain beruntung dan senang ketika sesuatu yang buruk terjadi pada orang lain.[10]
Sifat iri hati ini muncul akibat ketidakpuasan tehadap sesuatu yang telah didapatkan. Seseorang yang dirasuki perasan ini selalu merasa kurang dan ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain, atau paling tidak, sama dan sederajat. Kebanyakan orang yang seperti ini memiliki ego yang tinggi sehingga ada keinginan untuk selalu unggul dibandingkan dengan orang lain.
d. Pemarah
Sifat marah adalah perasaan yang muncul dalam diri akibat suatu rangsangan yang tidak menyenangkan. Sifat ini merupakan hasrat yang selalu dipaksakan untuk hadir ke permukaan melalui dorongan emosi yang berlebihan baik untuk melukai mental maupun fisik.[11] Kebencian ini mengantarkan untuk melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, paling tidak seperti yang seseorang rasakan. Inilah yang disebut balas dendam.
Dorongan balas dendan membuat berfikir untuk memalukan orang lain yang menyakiti hatinya dengan menunjukkan berbagai perilaku bermasalah. Karena tujuannya untuk menyakiti hati atau bahkan mempermalukan, maka perasaan puas akanada jika orang lain dirasa marah besar. Ekspresi sedih tentu juga tidak dapat membuat anak menghentikan perilakunya kecuali orang lain (orang tua) bersedia memperbaiki hubungan dengannya. Anak tidak akan menghentikan perilaku bermasalah tatkala orang lain (orang tua) mulai melakukan negosiasi dengan kompensasi yang disediakan. Justru tindakan negosiasi yang dilakukan semakin menguatkan anak untuk menciptakan masalah.
C. Faktor Penyebab Penyimpangan
Jika menggunakan hukum kausalitas, maka setiap akibat berawal dari munculnya sebab. Sama serupa dengan terjadinya berbagai penyimpangan psikis dalam diri anak. Penyimpangan tersebut dapat muncul dari dalam maupun dari luar pribadi anak. Dengan demikian kelainana mental psikis anak tidaklah murni dibawa sejak lahir, karena jelas-jelas anak berinteraksi dengan orang yang memiliki kemampuan psikis yang berbeda. Perbedaan tesebut membutuhkan stamina mental yang kuat untuk mempertahankan psikis yang dia miliki. Jika tidak, hanyutlah dia pada arah yang dilewati.
a. Faktor Penyebab Sifat Penakut
Faktor-faktor dominan yang menyebabkan takut pada diri anak adalah kebiasaan orang tua yang selalu menakut-nakuti pada saat kesiapan mental anak belum begitu matang. Pada kondisi ini anak tidak memiliki keberanian untuk melawan, karena secara tidak langsung anak telah meyakini bahwa orang tuanya lebih tahu tentang kejadian yang ditakuti sehingga ketakutan itu tetap membekas dalam dirinya.
Faktor lainnya adalah mendikte dan memanjakan anak. Pada situasi yang seperti ini, anak tidak mendapatkan kesempatan untuk berkreasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, karena semua yang dilakukan selalu berdasarkan kemauan orang tua. Ketika hal ini sering terjadi maka secara terpaksa anak melakukannya dan merasa takut apabila meninggalkan perintah orang tuanya.
b. Faktor Penyebab Sifat Pembohong
Kebohongan yang menjadi kebiasaan anak sedikit banyak diperoleh dari kedua orang tuanya, baik secara langsung atau tidak langsung. Terkadang suatu ketika karena seorang ayah takut bertengkar dengan istrinya lantaran suatu sebab,sang ayah dengansengaja bersembunyi di balik jawaban anak yang sengaja diberikan agar sang istri percaya dan tidak marah kepadanya.
Jika kejadian ini terus berulang lambat-laun anak akan meniru kebohongan orang tua. Pada saat yang sama, tidak menutup kemungkinan kebohongan itu akan kembali kepada orang tuanya sendiri, selain kepada orang lain.
c. Faktor Penyebab Sifat Dengki
Adapun faktor penyebab sifat ini adalah terjadinya diskriminasi dalam keluarga. Perlakuan orang tua yang demikian tentu membuat perasaan anak tidak tenang pun tidak senang karena selalu dibayang-bayangi oleh perasaan keterpojokan dalam keluarga. Anak akan selalu merasa bahwa orang lain selain dirinya lebih dihargai dalam keluarganya sehingga menimbulkan iri hati dalam dirinya.
Penyebab lain karena terjadi perbandingan negatif antarsesama anak dalam keluarga oleh orang tua. Karena anak sulung lebih pandai misalnya, perhatian orang tua lebih banyak kepada si sulung dibandingkan kepada si bungsu. Akibat perbandingan ini, mental si bungsu akan turun secara perlahan yang pada gilirannya memunculkan persaingan yang tidak sehat.
d. Faktor Penyebab Sifat Pemarah .
Anak yang berubah menjadi pemarah kebanyakan berangkat dari rumah. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan anak meniru dari orang lain benar adanya. Dengan demikian, kebiasaan-kebiasaan buruk orang tuapun tidak luput dari perhatian anak. Kebiasaan marah orang tua baik kepada orang lain yang berlebihan akan menanamkan sifat egois dalam diri anak.
Terlebih lagi ketika kemarahan itu ditujukan kepada anak. Paling tidak, untuk meluapkan kekesalan akibat kemarah orang tua, anak akan membiasakan diri untuk memarahi temannya. Dan kebiasaan ini menyebabkan anak tidak menghargai orang lain.
D. Pemecahan Masalah
Orang tua untuk memberikan solusi atau sebatas pencegahan, terkadang membutuhkan hukuman. Namun para ahli pendidikan tidak ada yang menyepakati digunakannya hukuman kecuali bila terpaksa.[12] Pada kondisi inipun harus ditentukanhukuman seperti apa yang pantas dan sesuai dengan pelanggaran yang diperbuat anak.[13] Karena walau bagaimanapun perlakuan hukuman tetap meninggalkan bekas tidak baik, minimal anak akan mempraktikkan pengalaman pada waktu selanjutnya.
Jika hukuman tidak baik, bukan berarti orang tua harus membiarkan anak tumbuh menurut alamnya sendiri atau memberikan kesempatan untuk menuruti semua kehendaknya. Nabi bersabda:
Artinya: “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing pemimpin bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari).[14]
Dari hadits ini tampak jelas bahwa pemberian kebebasan dari orang tua kepada anak tidak dapat dibenarkan. Anak yang sedang mengalami perkembangan dan belum mengetahui norma kesusilaan, hidupnya masih dikuasai oleh perasaan dan keinginan daripada pikiran.[15] Meskipun demikian, tidak baik pula jika dalam proses pertumbuhannya selalu mendapat rintangan. Karena mendidik anak tidak akan berhasil dengan selalu menghalangi keinginan dan kemauannya atau selalu membiarkan dan membatasi kebebasannya. Hal ini didasarkan pada hadits:
Artinya: Dari Jabir bin „Abdillah ra. Rasul bersabda, “setiap kebaikan (ma‟ruf) adalah shadaqah”. (HR. Bukhari)[16]
Dengan demikian, anak hendaknya diajarkan adaptasi yang berarti dapat menerima dan mematuhi peraturan; mana yang harus dituruti dan mana yang tidak. Para orang tua tidak boleh begitu saja memberikan kebebasan bergaul, meskipun hasrat untuk selalu bergaul ada dalam diri anak.[17]
Karenanya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; pertama, orang tua tidak boleh bersikap terlalu keras dan kasar terhadap anak. Kondisi fisik dan psikis anak belum cukup kuat untuk mengimbangi perilaku kasar orang lain. Kekerasan serta paksaan tidak dapat membuat anak berubah patuh. Anak hanya akan menuruti disaat merasa takut, bukan karena insyaf diri. Tetapi sebaliknya, anak akan menjadi penantang dan keras kepala. Dalam hal ini Nabi memberi isyarat melalui sebuah hadits ketika ada seorang shahabat meminta wasiat kepada beliau:
Artinya: Dari Abi Hurairah ra. Seorang laki-laki berkata kepada Nabi, “Berilah aku wasiat”. Beliau bersabda, “janganlah marah!”. Laki-laki itu mengulanginya berulang kali, dan Nabi berkata,”jangan marah!”. (HR. Bukhari)[18]
Seperti yang telah dijelaskan, kemarahan ini lebih besar pengaruhnya pada psikis anak. Sebaliknya yang kedua, sikap yang terlalu lunak dan lemah juga tidak dibenarkan karena justru menyebabkan anak selalu berbuat sekehendak hati, tidak tahu dan tidak patuh aturan sehingga melahirkan anak pembangkang. Rasul bersabda:
Artinya: Dari Abi Hurairah ra.Nabi bersabda, “Perkataan yang baik adalh shadaqah”. (HR. Bukhari)
Lebih konkritnya, orang tua harus memberikan keteladanan yang baik terhadap anaknya. Pemberian keteladanan digunakan tidak hanya dalam masalah keterampilan, tetapi juga untuk menanamkan nilai kepada anak.[19] Melibatkan anak dalam memecahkan persoalan keluarga juga merupakan contoh yang baik.
BAB III Penutup
Segala bentuk penyimpangan tidak luput dari faktor yang melingkupinya baik dilihat dari waktu dan kondisi yang ada. Penanganannya membutuhkan tenaga yang cukup serius guna mencapai tujuan yang dimaksud. Seperti yang termaktub dalam pembahasan sebelumnya, satu faktor penyebab dapat mempenagruhi terjadinnya dua penyimpangan atau lebih. Kemarahan orang tua dapat menyebabkan anak menjadi seorang penakut dan pemarah sekaligus. Untuk itulah, ekstra hati-hati dan kerja keras sangat dibutuhkan dalam hal ini. Sebagai seorang pendidik, langkah-langkah bijaksana yang ditempuh dengan cara arif yang lahir dari pemikiran yang objektif adalah solusi cerdas seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Boleh jadi Nabi tidak mengajarkan sesuatu yang tidak ada kesamaan peristiwa, tetapi cara-cara yang harus dilakukan tidak boleh menyimpang dari kemestian yang lebih baik.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penyimpangan yang terjadi pada anak sebenarnya merupakan pengaruh dari luar dirinya, baik itu diperoleh dari hasil interaksi dengan orang tua, teman dan sebagainya, karena secara umum anak dapat mengembangkan potensi fitrahnya selama dihadapkan pada situasi dan kondisi yang mendukung perkembangan psikisnya. Sedangkan pemecahan masalah penyimpangannya dikembalikan kepada akar penyebabnya.[20] Ketika anak takut menendang bola, maka anak mesti paham tentang bola untuk kemudian dia harus menendangnya.
Daftar Pustaka
- DR. Ahmad Tafsir, 1992, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, PT. Rosdakarya, Bandung.
- Dr. C. George Boeree, 2005, Sejarah Psikolog:i Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern, PRISMASOPHIE, Jogjakarta.
- Dr. H.M. Suyudi, M.Ag., 2005, Pendidikan Dalam Perspektif Al-qur'an: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani, MIKRAJ, Yogyakarta.
- Drs. Agus Sujanto, 2001, Psikologi Umum, Bumi Aksara, Jakarta.
- Drs. M. Ngalim Purwanto, MP, 1996, Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 4, al-Hidayah, Surabaya.
- Sigmund Freud, 2002, Psikoanalisis Sigmund freud, penerjemah: Ira Puspitorini, IKON TERALITERA, Yogyakarta.
- Soliki Abu „Izzudidin, 2009, New Quantum Tarbiyah: Membentuk Kader Dahsyat Full Manfaat, Pro-U Media, Yogyakarta
- Suara Hidayatullah, Mohammad Fauzil Adhim, Kolom Parenting, Edisi 07/XXII/Nopember 2009.
- Suara Hidayatullah, Mohammad Fauzil Adhim, Kolom Parenting, Edisi 10/XXII/Februari 2010.
[1] DR. Ahmad Tafsir, 1992, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, PT. Rosdakarya, Bandung. Hal. 155.
[2] Ibnu Miskawih dalam Dr. H.M. Suyudi, M.Ag., 2005, Pendidikan Dalam Perspektif Al-qur‟an: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani, MIKRAJ, Yogyakarta. Hal. 245.
[3] Shahih Bukhari, Juz.3 hal. 132 4 Dr. H.M. Suyudi, M.Ag., 2005, Pendidikan Dalam Perspektif Al-qur‟an: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani, MIKRAJ, Yogyakarta. Hal. 45.
[5] Suara Hidayatullah, Mohammad Fauzil Adhim, Kolom Parenting, Edisi 10/XXII/Februari 2010.
[6] Sigmund Freud, 2002, Psikoanalisis Sigmund Freud, penerjemah: Ira Puspitorini, IKON TERALITERA, Yogyakarta. Hal. 431 8 Idem.hal. 444
[7] Ibid
[8] Idem.hal. 444
[9] Suara Hidayatullah, Mohammad Fauzil Adhim, Kolom Parenting, Edisi 07/XXII/Nopember 2009. [10] Dr. C. George Boeree, 2005, Sejarah Psikolog:i Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern, PRISMASOPHIE, Jogjakarta. Hal. 517.
[11] Idem, hal. 519.
[12] DR. Ahmad Tafsir, 1992, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, PT. Rosdakarya, Bandung. Hal. 186.
[13] Dr. H.M. Suyudi, M.Ag., 2005, Pendidikan Dalam Perspektif Al-qur‟an: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani, MIKRAJ, Yogyakarta. Hal. 75.
[14] Shahih al-Bukhari, Juz 3. hal 132.
[15] Drs. M. Ngalim Purwanto, MP, 1996, Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Hal 139.
[16] Shahih Bhukhari, juz. 4, hal. 54.
[17] Drs. Agus Sujanto, 2001, Psikologi Umum,Bumi Aksara, Jakarta. Hal.141.
[18] Shahih Bukhari, juz 4, hal. 68.
[19] Dr. H. M. Suyudi, M.Ag. 2005, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur‟an: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani, MIKRAJ, Yogyakarta. Hal 79.
[20] Soliki Abu „Izzudidin, 2009, New Quantum Tarbiyah: Membentuk Kader Dahsyat Full Manfaat, Pro-U Media, Yogyakarta. Hal. 261






0 komentar:
Posting Komentar